Wednesday, January 30, 2013
Nasehat bijak: "Mencari pasangan hidup"
Waktu terus berjalan, tapi tidak pernah kembali. Suatu hari, seorang guru dan seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon di tengah lapangan rumput. Kemudian si pemuda bertanya ...
Tuesday, September 25, 2012
Aku Mencintaimu, Tissa (FF2in1)
Tissa menekan tombol handphonenya, mengetikkan
beberapa kata yang kemudian dikirim kepada Reza. Hanya butuh beberapa menit
pesan itu berbalas dengan deringan panggilan.
“Assalamualaikum,” sapa suara dari
seberang.
“Waalaikumsalam,” suara Tissa
terisak menjawab
“Jangan takut, Sa. Ingat
remah-remah roti yang aku ceritakan? Ikuti saja, dankau akan tiba di rumah,”
ujar Reza menenangkan.
“Aku tidak takut, Za. Aku hanya
bingung mengapa aku menjadi wanita hina seperti ini sekarang.” Suara Tissa kian
berat. Kesedihan akan hidup yang ia alami sungguh mengubah riangnya menjadi
duka. Pindah ke Ibu kota
adalah petaka baginya.
“Kau tak hina, Sa. Kau manusia
biasa, dan kesalahan adalah tempatnya manusia. Belum telat, Sa. Pulanglah dan
kembali menjadi Tissa yang dahulu,” Reza bertutur lembut, begitu ia merindukan
kekasihnya itu.
“Jika aku pulang, bagaimana
keluargaku? Akankah mereka menerimaku kembali setelah semua yang aku lakukan?”
“Ada aku, aku akan menemanimu menghadapi
semua.”
“Kau masih mencintaiku?” Tissa
bertanya penuh harap.
“Demi ibu yang mempertaruhkan
nyawanya demi melahirkanku, aku mencintaimu yang dulu, hari ini, esok, lusa,
hingga kapanpun. Seburuk apapun, sejahat apapun dirimu, aku mencintaimu. Aku
mencintaimu, Tissa Putri Bachtiar.”
Tangis Tissa kian keras, “aku akan
pulang.”
“Dan aku akan menjadi yang pertama
yang kau lihat ketika pulang.”
Reza ikut menangis dan malam itu
hanya untuk mereka.
Meski Menjadi Yang Kedua (FF2in1)
Sedang apa cinta? Masihkah kau
merindu atau telah lupa akan aku? Masihkah kau menunggu dan menantiku kembali
pulang atau telah ada wanita lain yang membuatmu berdebar saat dengannya?
“Kau tak boleh pergi,” pintamu di senja itu.
“Ini cita-citaku, mengertilah.”
“Kau yang harus mengerti aku.
Semua telah memintaku untuk mengakhiri masa lajangku, dan aku tak mau yang lain
kecuali denganmu?”
“Tapi aku harus pergi, Nal. Tunggu
aku, aku akan pulang dan kembali menjadi calon istri yang membanggakan bagimu.
Aku mencintaimu.” Kataku sambil berlalu darimu.
Aku tak pernah berpikir seperti
ini sakitnya tanpamu. Aku menjadi sosok bisu yang tak berbicara seperlunya. Kau
tahu seperti apa aku ketika berceloteh riang denganmu, kan ? Aku menjadi batu di keramaian dan
tersudut dalam pojok gelap dalam rumah. Aku ingin kau datang dan memberi
kecupan padaku. Mengajakku pulang dan meneruskan janji pinangan itu. Aku ingin
pulang. Aku ingin menjadi wanitamu, meskipun harus menjadi yang kedua setelah
pilihan orang tuamu. Mungkinkah Nal?
Subscribe to:
Posts (Atom)